RSS

Selasa, 15 Desember 2009

Pemikiran Asy Ariyah dan Maturidiyah

PENDAHULUAN
Munculnya berbagai macam golongan-golongan aliran pemikiran dalam Islam telah memberikan warna tersendiri dalam agama Islam. Pemikiran-pemikiran ini muncul setelah wafatnya Rosulullah. Ada beberapa factor yang menyebabkan unculnya berbagai golongan dengan segala pemikiranya. Diantaranya adalah faktor poitik sebagaimana yang telah terjadi pertentangan antara kelompok Ali dengan pengikut Muawiyah, sehingga memunculkan golongan yang baru yaitu golongan khawarij. Lalu muncullah golongan-golongan lain sebagai reaksi dari golongan satu pada golingan yang lain.
Golongan-golongan tersebut mempunyai pemikiran yang berbeda-beda antara satu dengan yang lainnya. Ada yang masih dalam koridor Al-Qur’an dan sunnah, akan tetapi ada juga yang menyimpang dari kedua sumber ajaran Islam tersebut. Ada yang berpegang pada wahyu, dan ada pula yang menempatkan akal yang berlebihan sehingga keluar dari wahyu. Dan ada juga yang mnamakan dirinya sebagai ahlussunnah wal jama’ah.
Adapun ungkapan ahlussunnah (sering juga disebut sunni) dapay dibedakan menjadi dua pengertian, yaitu umum dan khusus. Sunni dalam pengertian umum adalah lawan dari kelompok syi’ah. Dalam pengertian ini mu’tazilah termasuk juga asy’ariyah masuk dalam barisan sunni. Sunni dalam arti khusus adalah mahzab yang berada dalam barisan Asy’ariyah dan merupakan lawan mu’tazilah. Penertian kedua inilah yang dipakai dalam pembahasan ini.
Selanjutnya, term ahlussunnah banyak dipkai setelah munculnya aliran sy’ariyah dan Maturidiyah, dua aliran yang menentang aliran mu’tazilah. Harun Nasution dengan meminjam keterangan Tasy Kubro Zadah menjelaskan bahwa aliran ahlussunnah muncul atas keberanian Abu Al Hasan Al Asy’ari sekitar tahun 300 H.

A. Asy’ariyah
I. Sejarah perkembangan Asy’ariyah
Asy’ariyah adalah sebuah paham akidah yang dinisbatkan kepada Abu Al Hasan Al Asy’ariy. Beliau lahir di Bashrah tahun 260 H. bertepatan dengan tahun 935 M. Beliau wafat di Bashrah pada tahun 324 H di usia lebih dari 40 tahun.
Al Asy’ari menganut paham mu’tazilah hanya sampai usia 40 tahun. Setelah itu tiba-tiba mengumumkan di hadapan jama’ah masjid Bashrah bahwa dirinya telah meninggalkan faham mu’tazilah dan menunjukan keburukan-keburukannya. Menurut Ibnu Asakir yang melatarbelakangi Al Asyari meninggalkan faham mu’tazilah adalah pengakuannya telah bermimpi bertemu dengan Rosulullah sebanyak tiga kali, dimana Rosulullah memperingatkannya agar meninggalkan faham mu’tazilah dan mmbela faham yang diriwayatkan dari beliau.

II. Nama tokoh-tokoh aliran Asy’ariyah yang terkenal antara lain :
1. Al Baqilani (wafat 403 H)
2. Ibnu Faruak (wafat 406 H)
3. Ibnu Ishak al Isfarani (wafat 418 H)
4. Abdul Kahir al Bagdadi (wafat 429 H)
5. Imam al Haramain al Juwaini (wafat 478 H)
6. Abdul Mudzaffar al Isfaraini (wafat 478 H)
7. Al Ghazali (wafat 505 H)
8. Ibnu Tumart (wafat 524 H)
9. As Syihristani (wafat 548)
10. Ar Razi (1149-1209 M)
11. Al Iji (wafat 756 H)
12. Al Sanusi (wafat 895)

III. Pemikiran
Adapun formulasi pemikiran Al asy’ari, secara esensial, menampilkan sebuah upaya sintesis antara formulasi ortodokx ekstrim di satu sisi dan mu’tazilah di lain sisi. Maksudnya, dari segi etosnya, pergerakan tersebut memiliki semangat ortodoks. Sedangkan aktualitas formulasinya jelas menampakan sifat reaktif terhadap mu’tazilah, suatu reaksi yang tak dapat dihindarinya. Corak pemikiran yang sintesis ini, mungkin dipengaruhi pemikiran Ibnu Kullab (tokoh sunni yang wafat pada 854 M)
a. Tuhan dan sifat-sifat-Nya
Abul Hasan Al Asy’ari dihadapkan pada dua pandangan ekstrim. Di satu sisi ia berhadapan dengan kelompok mujasimah dan musyabihah yang berpendapat bahwa Allah mempunyai semua sifat yang disebutkan daam Al-Qur’an dan Hadits, dan sifat-sifat itu harus dipahami menurut arti harfiahnya. Di lain sisi, beliau berhadapan dengan mu’tazilah yang menolak konsep bahwa Allah mempunyai sifat, dan berpendapat bahwa mendengar, kuasa, mengetahui, dan sebagainya bukanlah sifat , tetapi substansi-Nya, sehingga sifat-sifat yang disebut dalam Al-Qur’an dan Hadits itu harus dijelaskan secara alegoris.
Menghadapi dua kelompok tersebut, Al asy’ari erpendapat bahwa Allah memang memiliki sifat-sifat itu (berbeda dengan mu’tazilah) namun tidak boleh diartikan secara harfiah. Selanjutnya Al asy’ari berpendapat bahwa sifat-sifat Allah itu unik, sehingga tidak dapat dibandingkan dengan sifat-sifat manusia yang tampaknya mirip.

b. Kebebasan dalam berkehendak
Menurut Asy’ariyah Allah pencipta perbuatan manusia, sedangkan manusia sendiri yang mengupayakannya (muktasib). Hanya Allah-lah yang mampu menciptakan segala sesuatu (termasuk keinginan manusia). Hal ini berbeda dengan mu’tazilah yang berpendapat bahwa manusia menciptakan perbuatannya sendiri.

c. Qodimnya Al Qur’an
Asy’ari berpendapat bahwa walaupun Al Qur’an terdiri atas kata-kata, huruf dan bunyi, semua itu tidak melekat pada esensi Allah karenanya tidak qodim. Menurut Asy’ariyah Al Qur’an tidak diciptakan.

d. Akal dan wahyu
Walaupu Al asy’ari dan mu’tazilah mengakui pentingnya akal dan wahyu, mereka berbeda menghadapi persoalan yang memperoleh penjelasan kontradiktif dari akal dan wahyu. Al asy’ari mengutamakan wahyu, sementara mu’tazilah mengutamakan akal.
Dalam menentukan baik dan burukpun terjadi perbedaan pendapat diantara mereka. Al Asy’ari berpendapat bahwa baik dan buruk harus berdasarkan pada wahyu, sedangkan mu’tazilah pada akal.

e. Keadilan
Pada dasarnya Al Asy’ari dan mu’tazilah setuju bahwa Allah itu adil. Namun Al Asy’ari tidak setuju bahwa Allah harus berbuat adil, sehingga Dia harus menyiksa orang yang salah dan member pehala kepada orang yang berbuat baik. Menurutnya Allah tidak memiliki keharusan apapun terhadap makhluk, karena Dia penguasa Mutlak.

f. Kedudukan orang berdosa
Al Asy’ari menolak ajaran posisi menengah yang dianut mu’tazilah. Iman merupakan lawan kufur, predikat seseorang haruslah salah satu dari keduanya. Jika tidak mu’min maka ia kafir. Mukmin yang berbuat dosa besar adalah mukmin yang fasik, sebab iman tidak mugkin hilang karena dosa, kecuali oleh kafir hakiki.

B. MATURIDIYAH
I. Sejarah perkembangan maturidiyah
Golongan Maturidiyah berasal dari Abu Al Mansur Al Maturidi. Latar belakang lahirnya alliran ini hamper sama dengan aliran Asy’ariyah, yaitu sebagai reaksi penolakan terhadap ajaran mu’tazilah, walaupun sebenarnya pandangan keagamaan yang dianutnya hampir sama dengan pandangan mu’tazilah yaitu lebih menonjolkan akal dalam system teologinya.
Abu Mansur Al Maturidi dilahirkan sekitar pertengahan abad ke-3 H di Maturid, sebyah kota kecil di daerah Samarkand Tarsoxiana di Asia Tengah daerah yang sekarang disebut Uzbeistan. Ia wafat tahun 333 H / 944 M.
Karir pendidikan Al Maturidi lebih menekuni bidang teologi dari pada fiqih. Ini dilakukan untuk emperkuat pengetahuan dalam meghadapi paham-paham teologi yang banyak berkembang pada masyarakat Islam, yang dipandangnya tidak sesuai dengan kaidah yang benar menurut akal dan syara’.
II. Tokoh-tokoh Maturidiyah.
Tokoh yang sangat penting dari aliran Al-Maturidiyah ini adalah Abu Al Yusr Muhammad al-Badzawi yang lahir pada tahun 421 H dan meninggal pada tahun 493 H. ajaran-ajaran Al maturidi yang dikuasainya adalah karena neneknya adalah murid dari Al Maturidi.
Al-Badzawi sendiri mempunyai beberapa orang murid, yang salah satunya adalah An najm al Din Muhammad al-Nasafi (460-537 H), pengarang buku al aqo’idal Nasafiyah.
Seperti al Baqillani dan Al Juwaini, Al Badzawi tak selamanya sefaham dengan Al Maturidi. Antara kedua pemuka aliran al Maturidiyah ini terdapat perbedaan faham sehingga boleh dikatakan bahwa dalam aliran maturidiyah terdapat dua golongan, yaitu golongan Samarkand yang mengikuti paham-paham Al Maturidi dan golongan Bukhara yang mengikuti faham-faham Al Badzawi.

III. Pemikiran dan doktrin-doktrin Maturidiyah.
a) Akal dan wahyu
Al Maturidi dalam pemikiran teologinya mendasarkan pada Al Qur’an dan akal sebagaimana Asy’ariyah, namun Al Maturidi memberikan porsi lebih besar terhadap akal dari pada porsi yang diberikan oleh Asy’ariyah
Menurut Al Maturidi mengetahui Tuha dan kewajiban mengetahui Tuhan dapat diketaui melalui akal. Kemampuan akal dalam mengetahui kedua hal tersebut sesuai dengan ayat-ayat Al Qur’an yang memerintahkan agar manusia menggunakan akal dalam memperoleh pengetahuan dan keimanannya terhadap Allah melalui pengamatan dan pemikiran yang mendalam tentang makhlik ciptaan-Nya. Kalau akal tidak memperoleh kemampuan dalam memperoleh pengetahuan tersebut, tentunya Allah tidak memerintahkan manusia untuk melakukanya. Dan orang yang tidak amu menggunakan akal untuk memperoleh iman dan pengetahuan yang mengenai Allah berarti meninggalkan kewajiban yang diperintahkan ayat-ayat tersebut. Namun akal menurut Al Maturidi tidak mampu mengetahui kewajiban-kewajiban lainya.
Al Maturidi membagi kaitan sesiatu dengan akal pada tiga macam, yaitu :
1. Akal dengan sendirinya hanya mengetahui kebaikan sesuatu itu.
2. Akal dengan sendirinya hanya mengetahui keburukan sesuatu itu
3. Akal tidak mengetahui kebaikan dan keburukan sesuatu, kecuali dengan petunjuk ajaran wahyu.

b) Perbuatan manusia
Dalam hal ini Al Maturidi mempertemukan antara ikhtiar sebagai perbuatan manusia dengan qudat Tuhan sebagai pencipta perbuatan manusia. Menurutnya perbuatan manusia adalah ciptaan Tuhan karena segala sesuatu dalam wujud ini adalah ciptaan-Nya. Dan mengenai perbuatan manusia, kebijaksanaan dan keadilan kehendak Tuhan mengharuskan manusia memiliki kemampuan berbuat (ikhtiar)

c) Kekuasaan dan kehendak mutlak Tuhan
Allah Maha Berkehendak atas segala sesuatu / ciptaan-Nya termasuk perbuatan manusia dan segala seauatu dalam wujud ini, yang baik atau yang buruk. Akan tetapi perbuatan dan kehendak-Nya itu berlangsung sesuai dengan hikmah dan keadilan yang sudah ditetapkan-Nya sendiri.

d) Sifat Tuhan
Menurut Al Maturidi Tuhan mempunyai sifat-sifat, sseperti sama’, bashor dan sebagainya. Ia mengatakan bahwa sifat-sifat Tuhan itu mulzamah (ada bersama) dzat tanpa terpisah.

e) Melihat Tuhan
Menurut Al Maturidi manusia dapat melihat Tuhan, sebagaimana diberitakan dalam Al Qur’an antara lain firman Allah dalam surat Al Qiyamah ayat 22 dan 23. Menurutnya tuhan kelak di akherat dapat dilihat dengan mata, karena Dia mempunyai wujud walaupun Dia immaterial. Namun melihat Tuhan di akherat tidak dalam bentuknya karena keadaan di akherat tidak sama dengan keadaan di dunia.

f) Kalam Tuhan
Al Maturidi membedakan antara kalam yang tersusun dengan huruf dan bersuara dengan kala nafsi (sabda yang sebenarnya atau makna abstrak). Kalam nafsi adalah sifat qodim bagi Allah, sedangkan kalam yang tersusun dari huruf dan suara adalah baharu (hadits). Al Qur’an dalam arti kalam yang tersusun dari huruf dan kata-kata adalah baharu. Kalam nafsi tidak dapat kita ketahui hakekatnya dan bagaimana Allah bersifat dengannya tidak dapat kita ketahui kecuali dengan suatu perantara.

g) Pelaku dosa besar.
Al Maturidi berpendapat bahwa pelaku dosa besar tidak kafir dan tidak kekal di dalam neraka walaupun ia mati sebelum bertobat. Hal ini karena Tuhan telah menjanjikan akan memberikan balasan kepada manusia sesuai dengan perbuatannya. Kekal di dalam neraka adalah bagi orang yang berbuat dosa syirik. Dengan demikian berbuat dosa besar selain syirik tidak akan menyebabkan pelakunya kekal di dalam neraka. Oleh karena itu, perbuatan dosa besar (selain syirik) tidaklah menjadikan seseorang kafir atau murtad.

Dari uraian yang telah kami jelasakan dalam bab pembahasan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa aliran teologi Asy’ariyah dan Maturidiyah memiliki kesamaan dan perbedaan sebagai berikut :
A. Persamaannya
1. Kedua aliran ini lahir sebagai reaksi terhadap paham aliran mu’tazilah.
2. Mengenai sifat-sifat Tuhan, kedua alilran ini menyatakan bahwa Tuhan mempunyai sifat-sifat dan tuhan megetahui bukan dengan dzat-Nya tetapi mengetahui dengan pengetahuan-Nya.
3. Keduanya menentang ajaran mu’tazilah yang beranggapan bahwa Al Quran adalah kalam Tuhan yang tidak diciptakan, tetapi bersifat qadim.
4. Al asy’ari dan Al Maturidi juga berkeyakinan bahwa manusia dapat melihat Allah pada hari kiamat dengan petunjuk tuhan.
5. Persamaan dari kedua aliran ini adalah karena keduanya sering menggunakan istilah ahlu sunnah wal jamaah. Dan di kalangan mereka kebanyakan mengatakan bahwa mahzab salaf ahlu sunnah wal jamaah adalah apa yang dikatakan oleh Al Asy’ari dan Al Maturidi. Sebagian dari mereka mengatakan bahwa ahlu sunnah wal jamaah adalah Asy’ariyah dan Maturidiyah dan salaf. Az Zaubaidi mengatakan : “jika dikatakan ahlu sunnah, maka yang dimaksud dengan mereka itu adalah Asy’ariyah dan Maturidiyah.” (Ittihafus Sadatil Muttaqin 2:6)

B. Perbedaannya
1. Tentang perbuatan manusia, Al Asy’ari meganut paham Jabariyah sedangkan Al maturidi menganut paham Qodariyah.
2. Tentang fungsi akal. Akal bagi aliran Asy’ariyah tidak mampu untuk mengetahui kewajiban-kewajiban manusia sedangkan menurut pendapat Maturidiyah akal dapat mengetahui kewajiban-kewajiban manusia untuk berterima kasih pada Tuhan.
3. Tentang jajni dan ancaman Tuhan. Al Asy’ari berkeyakinan bahwa Allah bisa saja menyiksa orang yang taat, memberi pahala kepada orang yang durhaka. Sedangkan Al Maturidi berpendapat lain, bahwa orang yang taat akan mendapatkan pahala sedangkan orang yang durhaka akan mendapatkan siksa, karena Allah tidak akan salah karena Dia Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui.


DAFTAR PUSTAKA

• Nasution. Nasution.Teologi Islam: Aliran Sejarah Analisa Perbandingan Jakarta: UI Press,1986
• Rozak, Abdul dan Rosihan Anwar. Ilmu Kalam,Bandung: Pustaka Setia,2007
• Sodikin Abu dan barduzaman. Metodologi Dtudi Islam, Bandung : tunas Nusantara,2000
• Yatim, Badri. Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: Rajawali Press,2000

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar